Kedua tersangka trafficking, Sri Lestari (SL) dan Sri Uami (SU) alias Lala, memakai baju tahanan saat pers release ungkap kasus traffiicking. (foto : Joko Pramono/Jatim Times)

Kedua tersangka trafficking, Sri Lestari (SL) dan Sri Uami (SU) alias Lala, memakai baju tahanan saat pers release ungkap kasus traffiicking. (foto : Joko Pramono/Jatim Times)



 Polres Tulungagung mengungkap kasus trafficking yang korbannya adalah anak di bawah umur. Tiga remaja yang jadi korban itu masih berusia 14 hingga 16 tahun.

Mereka dijadikan pekerja seks komersial di Kafé Talenta yang masuk kawasan wisata pasir putih di Desa Bungkoro, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Mereka adalah NA (14), APM (16) dan WA (16) yang semuanya warga Tulungagung.

Awalnya pihak kepolisian mendapat informasi akan ada pengiriman remaja dari Tulungagung untuk dipekerjakan sebagai PSK di salah satu kafé di wilayah Trenggalek. Mendapat informasi itu, pihak kepolisian langsung bergerak cepat mengamankan tiga remaja tersebut di salah satu warung kopi di wilayah Pinka, masuk Kelurahan Kuthoanyar, Sabtu (3/8/19) malam.

Dari keterangan yang didapat, NA (14), salah satu remaja korban trafficking, bahkan harus melayani hingga 10 lelaki hidung belang tiap hari. Tiap kali melayani pria hidung belang, NA mendapat bayaran 200 ribu rupiah dan 50 ribu di antaranya disisihkan untuk sang mami Sri Lestari (SL) yang sudah ditetapkan sebagai tersangka trafficking bersama rekannya Sri Utami (SU) atau Lala.

“Sekali main, NA dapatnya 200 ribu. Yang 50 ribu diberikan kepada pemilik warung (Sri Lestari),” ujar Wakapolres Tulungagung Kompol Ki Ide Bagus Tri, Selasa (6/8/19).

NA diketahui sudah bekerja di kafé milik Sri Lestari sejak Maret lalu. NA di antar oleh Lala ke warung milik Sri Lestari.

Lantaran tidak kuat melayani puluhan pria hidung belang tiap hari, Sri Lestari menyuruh NA untuk  mengajak kedua temannya, di antaranya APM dan WA, bekerja di kafé miliknya.

Dari penuturan Sri Lestari, dua remaja yang diajak oleh NA akan dipekerjakan seperti NA. mereka akan melayani tamu pria untuk minum kopi, menemani minum minuman keras, dan menemani tidur lelaki hidung belang.

“Menemani minum kopi per gelasnya 2 ribu, minuman keras 20 ribu. Kalau melayani hubungan badan, 200 ribu,” ujar Sri Lestari.

Warung milik Sri Lestari sudah beroperasi sejak 6 bulan lalu. Di kafé miliknya itu, Sri Lestari menyediakan ruangan berupa kamar sempit untuk lelaki hidung belang menyalurkan hasrat biologisnya.

Dari penangkapan di warung Sri Lestari, petugas juga mengamankan satu PSK berinisial NP (20) yang baru 4 hari bekerja di Kafé Talenta. Mirisnya, NP tidak mendapatkan imbalan setelah melayani lelaki hidung belang.

Sementara Sri Utami ditangkap saat mengantarkan NA dan dua temannya. Sri Utami bertugas mengantarkan remaja yang akan dipekerjakan di Kafé Talenta.

Dari pengungkapan ini, polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa 4 buah HP, bekas bungkus kondom, mobil pelaku, uang 600 ribu rupiah, pakaian, dan sprei.

Selanjutnya dua tersangka, Sri Lestari dan Sri Utami, dijerat dengan Pasal 2 Ayat 1 Jo Pasal 17 UU RI Tahun 2017 dengan ancaman hukuman hingga 15 tahun penjara dan denda 600 juta rupiah. Lantaran korbannya di bawah umur, maka hukuman ditambah sepertiga.

 


End of content

No more pages to load