Kontroversi RA Kartini : dari Kebenaran Surat, Peringatan Hari Besar Sampai Misteri Kematiannya

Makam RA Kartini (Ist)
Makam RA Kartini (Ist)

BONDOWOSOTIMES, MALANG – Tepat 21 April, masyarakat Indonésia memperingati hari kelahiran Raden Adjeng (RA) Kartini. Berbagai perayaan mengenang perjuangan RA Kartini massif dilakukan diberbagai pelosok daerah. Tapi, selalu ada kontroversi yang sampai saat ini belum terkuat di sisi lain kehidupan Kartini.

Dari adanya berbagai kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Kartini yang membuat heboh Hindia Belanda saat itu. Sampai pada perbedaan pandang terkait hari besar nasional memperingati Kartini. Serta tentunya terkait misteri kematian Kartini yang sempat menjadi bahan diskusi berbagai kalangan.

Berbagai kontroversi tersebut, tentunya tidak membuat sosok Kartini menjadi bias. Kartini tetaplah seorang pahlawan nasional yang melakukan perlawanan dengan cara yang melampaui zamannya, yaitu melalui pemikiran.

Malangtimes.com mencoba merangkum beberapa kontroversi terkait Kartini dari berbagai literatur yang ada untuk Anda. 

1. Kebenaran Surat Kartini

Beberapa kalangan ada yang meragukan kebenaran dari buah tangan Kartini (12 April 1879-17 September 1904). Pemikiran Kartini di masanya memang sangatlah revolusioner, khususnya di kalangan kaum hawa. Loncatan pemikiran inilah yang kerap menimbulkan keraguan di beberapa kalangan.

Seperti diketahui, buah pena Kartini baru diterbitkan setelah putri ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri, wafat. Lewat J.H. Abendanon lah buah tangan Kartini menjadi sebuah buku yang diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya" (1911). Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.

Ada dugaan yang menjadi kontroversi sampai saat ini, bahwa Abendanon yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan, melakukan rekayasa surat-surat Kartini. Dugaan ini ditengarai dengan adanya kepentingan Belanda dalam menjalankan politik etis di Hindia Belanda. Seperti diketahui Abendanon termasuk yang berkepentingan dalam menyukseskan politik etis tersebut.

Selain hal tersebut, sebagian besar naskah asli dari surat Kartini yang dikirimnya, tidak diketahui keberadaannya. Bahkan, jejak keturunan Abendanon pun sukar untuk dilacak pemerintah Belanda.

Asumsi adanya rekayasa dari surat Kartini tersebut, sebenarnya bisa dipatahkan dengan kegemaran Kartini sejak usia 12 tahun. Selain mahir berbahasa Belanda, Kartini juga gemar membaca buku, koran, majalah Eropa dan lainnya. Sehingga di usianya yang masih kecil, wawasannya terdidik secara luas, terutama pada topik hak-hak perempuan. Bahkan, Kartini beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. 

Di usia 20, buku-buku berat pun telah dilahapnya. Seperti Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Selain itu berbagai roman feminis bermutu tinggi karya  Van Eeden, Augusta de Witt, Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata), tuntas dibacanya.

2. Perdebatan terkait kelahiran Kartini dijadikan hari besar

Walau telah disepakati tanggal 21 April sebagai hari Kartini, ada juga pihak yang tidak menyetujuinya. Pasalnya, dengan adanya hari khusus Kartini, terkesan adanya pilih kasih dengan para pahlawan wanita Indonesia lainnya.

Menurut yang kontra, Kartini berjuang hanya di Jepara dan Rembang saja serta tanpa memanggul senjata melawan penjajah. Berbeda, misalnya dengan Cut Nyak Dien dan pahlawan wanita lainnya. Hal lain Kartini menunjukkan sikap pro terhadap poligami yang bertentangan dengan kaum  feminis. Mereka mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

Di pihak yang pro, sebaliknya mengatakan bahwa Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Jawa saja, tapi Indonesia. Kartini berjuang bukan untuk kepentingan lokal saja tapi kepentingan bangsa.

3. Kematian Kartini

Seperti diketahui, Kartini meninggal setelah empat hari dirinya melahirkan. Dari beberapa literatur, ketika Kartini mengandung sampai melahirkan terlihat sehat. Tapi, empat hari setelahnya Kartika meninggal. 

Efatino Febriana, dalam bukunya “Kartini Mati Dibunuh”, menyimpulkan, kalau kartini mamang mati karena sudah direncanakan. Demikian pula Sitisoemandari dalam buku "Kartini, Sebuah Biografi", menduga bahwa Kartini meninggal akibat permainan jahat dari Belanda. Permainan jahat dari Belanda ingin agar Kartini bungkam dari pemikiran-pemikiran majunya yang ternyata berwawasan kebangsaan. Bukan hanya sekedar curahan hati seorang wanita priyayi.

Beberapa literatur lain mengisahkan, saat Kartini melahirkan, dokter yang menolongnya adalah Dr van Ravesten. Proses persalinan berjalan lancar, bayi dan sang ibu baik-baik saja. Ravesten pasca melahirkan menjenguk Kartini serta melihatnya sehat-sehat saja. Sebelum pulang, Ravesten dan Kartini menyempatkan minum anggur sebagai tanda perpisahan. 

Setelah minum anggur itulah, Kartini langsung sakit dan hilang kesadaran, hingga akhirnya meninggal dunia. Walau tidak ada bukti terkait peristiwa tersebut, serta ada analisis para dokter kematian Kartini dikarenakan mengalami preeklampsia atau tekanan darah tinggi pada ibu hamil. Namun hal ini juga tidak bisa dibuktikan karena dokumen dan catatan tentang kematian Kartini tidak ditemukan.

Pewarta : Dede Nana
Editor : A Yahya
Publisher :
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]bondowosotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]bondowosotimes.com | marketing[at]bondowosotimes.com
Top