Selamatkan Generasi Milenial, Kominfo dan RTIK Inisiasi Digital Parenting

Para narasumber saat presentasi di hadapan puluhan santri dan masyarakat koncer darul aman. (Foto: Indra Setiawan/BondowosoTIMES)
Para narasumber saat presentasi di hadapan puluhan santri dan masyarakat koncer darul aman. (Foto: Indra Setiawan/BondowosoTIMES)

BONDOWOSOTIMES – "Bila seorang politikus selalu berpikir tentang sukses dari pemilu ke pemilu, maka seorang negarawan selalu berpikir tentang menyelamatkan generasi demi generasi".

Aforisme yang ditulis oleh James Freeman Clarke pada abad ke 19, seorang penulis, politikus dan juga teolog dari Amerika Serikat ini, menyiratkan kehidupan sebuah negeri kerap dan acapkali terancam krisis, bila sebuah negara surplus melahirkan politikus namun minus para negarawan.

Di tengah serbuan konten-konten media sosial dan juga aplikasi-aplikasi digital. Sepatutnya para orang tua, pendidik, tokoh masyarakat dan agama mulai 'aware' terhadap model asuh ataupun pola edukasi yang sama sekali berbeda di 'jaman old' dan 'jaman now'.

Membanjirnya arus informasi dan paparan penggunaan aplikasi digital yang sudah tak terbendung, menyebabkan peranan teknologi menjadi keniscayaan di era digital saat ini. Tak terkecuali, soal pola asuh bagi anak-anak yang mayoritas lahir di era milenial.

Atas dasar pemikiran tersebut, Dinas Kominfo Kabupaten Bondowoso gencar melakukan Sosialisasi Pengawasan dan Pengamanan Informasi, dengan menjalin kemitraan bersama Relawan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (RTIK) secara masif guna memerangi hoaks, hate speech dan konten-konten berbau negatif lainnya yang merusak otak dan mental generasi muda.

"Terdapat 5 pemuda di bawah usia 14 tahun yang saat ini dirawat di rumah sakit jiwa di Jember dan 1 pemuda Bondowoso yang mengalami gangguan jiwa karena kecanduan game online yang berkonten kekerasan," ujar Ismaili saat didapuk sebagai pembicara di Sekolah Tinggi Ilmu Syari'ah al-Maliki yang berlokasi di area Pondok Pesantren Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki Desa Koncer Darul Aman Bondowoso, jum'at (12/4/2019).

Narasumber yang berprofesi sebagai dosen sekaligus relawan TIK ini mengemukakan bahwa para orang tua saat ini wajib memahami 'Digital Parenting' dan melakukan 'Pendampingan Generasi Digital' kepada putra dan putrinya sejak dini.

"Pendampingan Generasi Digital dilakukan secara berjenjang, berdasarkan variabel usia dan perlakuan asuh yang berbeda. Dimulai sejak usia 1-3 tahun, lalu ke tahapan usia 4-6 tahun, kemudian 8-12 tahun dan terakhir 12-18 tahun. Sebagai contoh; anak yang berusia 1-3 tahun jangan ditunjukkan konten yang bersifat audio visual, hal ini penting karena pada saat itu, anak sedang mengalami perkembangan pada sisi kognitif (otak) dan psikomotorik (gerak). Sehingga bila ditunjukkan konten video, anak akan cenderung pasif dan malas bergerak," imbuhnya.

"Ada beberapa tips serta pantangan dalam Digital Parenting. Pertama, batasi penggunaan gadget pada jam-jam tertentu dan kenalkan anak pada konten-konten positif. Kedua, seimbangkan penggunaan smarthphone dengan interaksi sosialnya agar berkembang sisi afektif (sikap) terhadap lingkungannya. Ketiga, hindari bermedsos ria yang membuat anak kehilangan perhatian dan curi-curi kesempatan meniru perilaku orang tua yang kecanduan HP," pungkasnya.

Lain halnya dengan Andi Wijaya, sebagai pembicara kedua, praktisi politik yang juga pemerhati sosial media ini menekankan pentingnya 'Political Will' dan peran aktif pemerintah dalam menanggulangi konten-konten negatif arus informasi di sosial media.

"Diperlukan komitmen dan pemerintahan yang kuat untuk menjamin keselamatan generasi penerus bangsa. Demokrasi dan kebebasan memang acapkali berkelindan, namun kebebasan dalam demokrasi harus dilindungi dan diawasi oleh pemerintahan yang kuat dan berwibawa, karena ia rawan dimanipulasi oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan demokrasi," urainya.

Sebagai contoh; kelompok LGBT yang berjuang keras melegalkan komunitas dan perilakunya dengan agenda menguasai parlemen, kelompok liberal anti poligami dan pro pornografi, gembong dan pengedar narkoba yang merajalela serta buzzer-buzzer politik yang berlaku fitnah ujaran sara dan kebencian demi kepentingan kelompoknya. 

"Bila konten-konten mereka menguasai sosial media, maka inilah yang disebut sebagai Kekerasan Demokrasi", ungkapnya dengan mengutip istilah dari Fareed Zakaria, P.Hd dalam buku 'the future of freedom' (masa depan kebebasan) sebagai penutup presentasi.

Pewarta : Indra Setiawan
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Bondowoso TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]bondowosotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]bondowosotimes.com | marketing[at]bondowosotimes.com
Top