Kader HMI Dituntut Tangguh Hadapi Era Milenial

Sambutan KAHMI saat Milad Ke-72 HMI.
Sambutan KAHMI saat Milad Ke-72 HMI.

BONDOWOSOTIMES – Tanggal 5 Februari adalah hari lahir Himpunan Mahasiswa Islam, organisasi yang didirikan Lafran Pane 72 tahun silam (1947) tepat setelah 2 tahun Proklamasi Kemerdekaan. 

Di awal berdirinya, HMI turut andil menorehkan sejarah perjuangan anak bangsa pada masa-masa agresi militer Belanda dan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Oleh karena itu, setiap Februari seluruh Kader HMI dari Sabang sampai Merauke senantiasa melaksanakan "dies natalis" atau "milad" HMI. Itu "ritual tahunan" yang dihadiri oleh Klkader dan alumni HMI sebagai napak tilas perjuangan kader-kader HMI dalam berproses dan beraktualisasi diri di masa lalu dan masa kini.

Tak terkecuali kader-kader HMI Komisariat Bondowoso dan Komisariat At-Taqwa turut berpartisipasi menyelenggarakan acara Milad Ke-72 HMI. Acara dilangsungkan di aula Disparpora Kabupaten Bondowoso Minggu (10/2/2019) malam. Acara yang bertajuk "Revitalisasi Perjuangan HMI di Era Milenial" ini mengundang alumni-alumni HMI dari berbagai profesi.

Mewakili Majelis Daerah KAHMI (Korps Alumni HMI) Kabupaten Bondowoso, di dalam sambutannya,  Indra Setiawan yang juga general manager (GM) BondowosoTIMES menekankan kepada seluruh kader HMI agar tangguh dan mampu beradaptasi di era kekinian. "Mengutip teori evolusi Darwin, survival of the fittest, hanya yang mampu beradaptasi yang bisa survive menghadapi perubahan zaman," ujarnya.

Sementara itu, saat stadium general,  Fricas Abdillah - salah satu komisioner Bawaslu Kabupaten Bondowoso - berpesan agar kader-kader HMI menjadi "man of inovator". Yakni  selalu tampil kreatif dan inovatif dalam segala hal. "Hal tersebut adalah modal bagi kader dalam  menghadapi tantangan zaman di era milenial," ujarnya.

Masih saat stadium general, sebagai pembicara terakhir, Syahrial Fary memberikan otokritik kepada HMI.  "Kader HMI dan alumninya masih belum terdistribusi secara merata sebagai kontributor pembangunan di segala bidang. Hal ini disebabkan lebih banyak kader HMI yang memilih terjun ke dunia politik praktis. Padahal, ruang pengabdian publik tersebar luas di segala sektor," ungkapnya.

"Harus ada dari kalian yang menjadi insinyur. Insinyur yang berwatak HMI, advokat yang berkarakter HMI, dokter yang bertabiat HMI," sambung  alumnus Institut Teknologi Nasional Malang yang saat ini berdinas di Kominfo Kabupaten Bondowoso itu.

Syahrial juga mendorong kader HMI harus selalu meng-upgrade skill dan kompetensi. Sebab, bangsa Indonesia tengah memasuki Industri 4.0. Padahal Jepang dan Eropa sudah pada level industri 5.0. 

"Maka berikan karya terbaik, kapasitasi diri dengan ilmu terbaik dan berkontribusi dengan peran yang terbaik demi kemaslahatan umat dan bangsa,"  ujar dia.

Pewarta : Puri Nur'aini Agustin
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Bondowoso TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]bondowosotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]bondowosotimes.com | marketing[at]bondowosotimes.com
Top